Jeda
kamu bilang ? Jeda yang berujung bahagia atau jeda yang tak ada akhirnya ?
Aku
ingin yang pertama. Iya. Aku egois. Tapi aku tak kan berucap maaf karena aku
wanita. Eh bukan, karena nyatanya semua kata maafmu saja menguap, mengudara
sia-sia. Lantas apa gunanya kata maafku ? Toh aku tetap saja egois. Tetap saja
dengan pilihanku yang pertama.
Jeda.
Mungkin ini yang kau sebut bahagia. Tapi bagiku ini derita.
Lebay katamu ? Tak
apa. Inilah cinta. Aku mencinta dan tak bisa menyimpan tanya perihal kabar darinya.
Ya, itu derita. Bagiku. Mungkin tidak berlaku bagimu.
Jika boleh ku simpulkan.
Disini hanya aku yang cinta. Jangan membantah. Jika memang cinta mengapa ada
jeda di antara kita ? Maksudku, aku dan kamu yang belum menjadi kita.
Hahaha.
Aku memang tak pernah tahu diri. Dibilang hanya aku dan kamu, bukan kita. Tapi
meminta lebih. Lalu apa arti semua yang kau lakukan jika bukan cinta ? Lantas
apa ? Bukan cinta dan hanya bercanda ?
Awalnya
kupikir kamu berbeda. Tapi ternyata begini adanya. Belum apa-apa sudah meminta
jeda. Sikapku yang salah atau perasaanmu padaku yang musnah sebelum tumbuh ?
Kupikir
kau jawaban dari semua tanyaku. Nyaman dari segala gelisahku.
Sungguh. Aku
sudah sedemikian jatuh. Padamu.
Aku takkan menyalahkanmu karena telah membuatku
luluh. Aku saja yang memang bodoh. Terlampau bodoh. Sangat bodoh.
Tapi
aku tak pernah menyesal mencintaimu. Sungguh. Karena dibalik semua pahit yang
kurasa, ada kenangan indah yang tak mungkin ku lupa.
Aku memang patah olehmu.
Dengan berbagai cara. Tapi aku juga bahagia karenamu. Ah ya, terima kasih.
Mengingatkanku rasanya jatuh cinta. Rasanya bahagia.
Aku
tak menyesal karana tlah mengenalmu. Tak kusesali pula segala kenangan yang
entah memang kita ukir bersama dengan indah atau hanya aku yang menganggapnya
indah. Boleh kukatakan, jatuh cinta kedua. Yang kedua terasa nyata. Ya. Nyata
sekali bahagianya.
Cilacap, 10 Januari 2019
Hanya Aku.

Komentar
Posting Komentar