KRONOLOGI : 25 Desember 2018




Hai kamu,
Yang saat ini entah telah menjadi masa lalu-ku atau tetap masih menjadi kini-ku. Jika ini nyaman dan bahagia bagimu aku tak apa. Aku tak masalah. Sungguh. Karena saat ini, bahagiamu juga bahagiaku. Tidak. Aku tidak sedang berujar kemunafikan. Aku bersungguh-sungguh.

Jika nyaman dan bahagiamu adalah tanpaku. Aku terima. Aku akan mencoba mengerti keadaan ini. Tak apa. Aku masih kuat menahan perih ini.

Kejujuran pertama, aku ingin berteriak kemudian terisak. Hatiku sesak itulah kebenarannya.

Aku sungguh tak paham, ini yang kau sebut bosan atau justru meninggalkan ? Alibi yang kerap kau lontarkan adalah bosan. Aku coba paham. Mungkin memang pribadiku yang membosankan sekaligus menjemukan. 

Tapi tak bisa ku pungkiri pimikiran yang rutin menjelma di kepala. Bahwa kata orang dalam sayang tak akan ada kata bosan. Hubungan yang tulus, kecil kemungkinan menjadi menjemukan. Aku acap kali membacanya di pelbagai bacaan. Tapi pasti kau akan berkata “ini kita, jangan meninginkan layaknya orang lain”. Peduli apa dengan perkataan yang kerap kau ucapkan itu, jika keadaan justru mendukung hal yang kebanyakan orang katakan, bukan yang engkau katakan.

Kejujuran kedua, aku lelah. Sungguh, aku benar-benar lelah. Kau bilang akan selalu membuatku menyajikan tawa tapi nyatanya justru kutuang derai air mata. Mungkin memang aku yang terlalu bodoh. Teramat bodoh. Maafkan kedunguanku ini.

Aku lelah. Rasanya ingin kulepas dan tinggalkan semua ini. Aku muak. Sungguh. Haruskah hanya aku yang berkorban disini ? Haruskah hanya aku yang memahami ? Kukira, aku dan kamu akan bisa saling memahami. Kenapa justru aku yang seakan kian memahamimu ? Kutegaskan, untuk saat ini aku mencoba memahami rasa bosanmu tanpa kau pahami bahwa ada kepedihan yang kian kurasakan ? Ah ya, lagi-lagi aku ini dungu. Mungkin, perasaan ini hanya sepihak. Karena yang ku tahu, sayang tak kan bisa melihat ia murung. Apalagi terus kesakitan.

Kejujuran ketiga, aku ingin bertahan. Bodoh. Ya bodoh. Dasar aku bocah bodoh. Walau aku pun tak paham apa yang sedang ingin ku pertahankan. Dan apakah aku layak untuk bertahan.

Kejujuran keempat, aku muak. Aku kini muak. Muak mencoba menjadi wanita yang baik. Yang hanya berada di lingkungan satu lelaki. Tapi, jika aku harus menjelma menjadi wanita berhati monster. Ah rasanya aku tak ingin. Kini aku terlalu takut dengan balasan dengan keadilan Tuhan. Tak hanya itu. Dari awal, aku sudah bertekad untuk berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kupikir, mungkin salah satunya dengan meminimalisir kemungkinan menyakiti orang lain.

Kejujuran kelima, aku bingung. Bingung dengan semua ini. Apakah perasaanmu padaku nyata ataukah ilusi semata ? Jika nyata, bagaimana bisa membuatku semenyedihkan ini ? Jika hanya ilusi yang kubuat, tolong segera sadarkan aku.

Aku hanya ingin menyampaikan, aku juga pernah bosan denganmu. Kau pun tahu itu. Tapi, kamu tahu apa yang aku lakukan ? Aku bertahan. Aku lawan bosan yang menyerang, bukan malah menghilang seakan berniat meninggalkan.

Ya aku tahu bahwa bosan itu memang manusiawi. Tapi menghilang dengan alibi bosan apakah tetap disebut manusiawi ? Kau pikir manusia tak miliki hati ?

Cilacap, 25 Desember 2018


Aku bukan kamu.

Komentar