Bidadari
Tanpa Sayap
Karya : Yasisca
Shidqin
“Ini hidupku. Aku punya
hidup sendiri dan aku berhak menentukan arah hidup ini” batinku. Aku bosan
dengan mama yang selalu bersikap memperlakukan anaknya seperti boneka, dan
baginya seperti sudah menjadi suatu kewajiban bahwa aku harus menuruti semua
keinginannya termasuk mengenai masa depanku. Aku jenuh dengan semua ini. Aku
memang memiliki keinginan besar untuk membahagiakan orang tua, tapi dengan
caraku sendiri tentunya. Bukan dengan cara mereka, aku punya cara sendiri untuk
itu. Aku juga paham tentang masa depan yang cemerlang. Aku juga paham tentang
jalanku menuju masa depan. Aku paham gambaran tentang masa depan yang aku
inginkan.
Lamunanku
dibuyarkan oleh sosok wanita yang biasa aku panggil mama, “kamu kuliah paling
jauh di Purwokerto, nanti kan kita gampang nengoknya” ucap mama. “Tapi ma, ika
pengen kuliah di Jogja” sanggahku.
“Jogja itu jauh, nanti kalau kamu sakit gimana ? Mama susah nengok. Terus nanti
siapa yang ngawasi kamu disana ?” mama tetap dengan pendirianya. “Aduh ma, Ika
udah 18 tahun. Bisa jaga diri kok, mama jangan mikir yang engga-engga tentang
anaknya. Ika juga tahu mana yang baik mana yang tidak” ucapku membela diri.
“Namanya juga pergaulan, mama cuma takut kamu ikut-ikutan. Udahlah, kamu ikut
kata mama. Kuliah di Purwokerto. Anaknya temen kerja papa juga sekolah disana”
ucap mama. “Ma, ini yang mau kuliah Ika atau mama ? Ika bosen diatur terus.
Udahlah, lihat nanti aja” ucapku. “Kamu coba apapun yang kamu mau, selagi itu
baik. Daripada penasaran dan menyesal seumur hidup mending kamu lakukan apa
yang kamu mau. Apa yang jadi impianmu. Papa dukung, jangan takut gagal” ucap
papa menengahi perbincangan aku dan mama. “Tuh kan, mama harusnya gitu. Jangan
malah bikin anaknya down. Udahlah, lihat nanti. Mama sama papa tinggal terima
beres. Ika ngantuk, tidur duluan ya” ucapku seraya menuju kamar.
***
Dua
hari berlalu setelah perbincangan aku dan mama namun bayang-bayang ucapannya
seakan selalu menghantuiku. Aku menyadari restu orang tua itu segalanya, tapi
aku juga mempunyai mimpi yang ingin ku gapai. Aku terus memikirkan ucapan mama
itu berhari-hari hingga akhirnya aku jatuh sakit. Entah karena ucapan mama
menjadi beban pikiranku atau efek makanan pedas yang aku makan. Awalnya memang
maag ini tak terasa begitu sakit, namun semakin lama sakitnya semakin terasa.
Aku menahan sakit semalaman tanpa orang tua mengetahui. Dan sekitar pukul 02.00
dini hari penyakit ini mencapai klimaksnya. Aku menangis, meringis memecah
keheningan malam , mencoba menahan sakit hingga membangunkan mama dari bunga
tidurnya=. “Ika, kamu kenapa ?” ucap mama penuh khawatir. “Sakit ma” ucapku
diiringi air mata mengalir deras membentuk anak sungai. “Yaudah kita ke dokter
ya, tahan sebentar ya mama panggi papa dulu” ucap mama seraya meninggalkan
kamar. Aku tak menjawab apapun.
Kami
segera pergi ke puskesmas terdekat. Sesampai disana ternyata penyakit maag yang
aku derita cukup parah. Aku disarankan untuk menginap atau dibawa ke rumah
sakit, tetapi aku menolak. Entahlah, sejak dulu aku tak ingin menginap di rumah
sakit atau sejenisnya. Akhirnya aku diberi pilihan lain dengan meminum obat dan
mendapat suntikan obat. Jujur aku takut pada jarum namun tak ada pilihan lain
aku harus memberanikan diri kali ini.
Setelah
aku mendapat suntikan obat aku hanya berdua dengan mama. “Kamu tahu kenapa saat
kamu minta ijin melanjutkan sekolah di SMAN 2 Purwokerto atau waktu papa nyuruh
kamu sekolah di SBI deket rumah mbah di Sragen, mama lebih pilih kamu sekolah
disini ?” mama mebuka pembicaraan. “Karena ini ?” tanyaku. “Iya. Yang mama
takutkan ini, kalau kamu sekolah jauh terus sakit gimana ?” ucap mama diiringi
tangis yang akhirnya pecah. “Ma, Ika bisa jaga diri. Ika janji” ucapku
meyakinkan. “Kamu masih diawasi mama aja masih gini, gimana nanti ?” ucap mama.
“Ika pasti jaga diri baik-baik ma” ucapku. “Mama belum bisa percaya sama kamu”
ucap mama seraya menggenggam tanganku. “Mama percaya sama Ika” ucapku. “Kamu
buktikan dulu, baru mama percaya” ucap mama. “Siap ma” ucapku seraya melukis
senyum.
Sekarang
aku paham alasan pendirian mama selama ini, aku tak bisa mengabaikan begitu
saja perasaan khawatir mama ini. Tapi aku juga memiliki impian yang ingin aku
wujudkan. Tetapi pemikiranku kali ini berubah, aku tak boleh egois dengan
keinginanku tapi aku pun tak boleh mengorbankan begitu saja impianku. Dan sejak
saat ini aku bertekad untuk membuat mama lebih percaya padaku bahwa aku bisa
menjadi lebih dewasa, tidak manja, dan bisa menjaga diri baik-baik. Aku janji
akan selalu berusaha membanggakan mama dengan caraku sendiri tanpa membuat mama
diselimuti rasa khawatir. Aku janji akan membahagiakan dan membalas semua
pengorbanan mama semampuku. Karena mama segalanya bagiku. Terima kasih Tuhan,
telah memberikan bidadari terbaik dari surga.
***
Komentar
Posting Komentar