CERPEN : " Penantian di Ujung Senja "

Penantian di Ujung Senja

Karya : Yasisca Shidqin Noor Rahmah Islami 

            Ku pandangi indahnya semburat jingga sore ini. Ia selalu berhasil menenangkan jiwa yang amat rapuh ini, walau hanya secercah ketenangan yang ku dapatkan. Namun semburat jingga itu seakan terkalahkan oleh kelamnya hati ini sebagai akibat peristiwa yang amat melekat pada ingatanku. Semakin ku pandangi dan resapi keindahannya semakin kuat pula kejadian itu melekat dalam benakku dan tanpa disadari membawa anganku melayang pada sosok yang amat ku hafal, Rio Pratama. Ia yang membuatku rapuh namun dia juga yang membuatku kuat bertahan dalam penantian ini, penantian panjang nan menguras air mata.

            Sabtu malam ini terasa hambar tanpanya. Tak seperti biasanya, Rio tak menjemput untuk sekadar melewati malam minggu bersama di cafe ataupun di alun-alun kota. Rasanya amarahku memuncak. Bagaimana tidak ? Aku sudah berdandan dengan susah payah hingga menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan pujian darinya malam ini, tapi ternyata tanpa ku duga ia tak menjemputku bahkan memberi kabar pun tidak. “Mungkinkah Rio sedang merasakan bahwa cinta kita kadaluwarsa ?” batinku. Berjam-jam ku tunggu, tetapi sedan hitamnya tak kunjung memasuki area halaman rumahku. Putus asa menunggunya, akhirnya ku putuskan mencoba menghubunginya. Tapi hasilnya nihil. Tak ku dapatkan apapun. Hanya kehancuran perasaan yang ku rasakan atas tindakan bodohku. “Tak ada gunanya menunggunya yang bahkan menganggapku saja tidak” batinku.

            Menyadari akan kebodohan yang ku lakukan akhirnya dengan dibebani perasaan kecewa ku langkahkan kaki setapak demi setapak menuju kamar, ku kunci pintu kamar. Tercipta bendungan air sungai yang ku yakini sepersekian detik kemudian tak kan tahan menahan derasnya air yang ingin ku pecahkan  menjadi isak tangis kekecewaan. Namun itu semua tak benar-benar terjadi, bendungan itu seketika kering setelah mendengar suara orang tua ku dibalik pintu kamar. Terdengar jelas kekhawatiran dalam nada bicaranya. Tetapi untuk kali ini aku hanya ingin berdua saja bersama sang sepi. Dan terhanyut dalam kekelaman malamku ini. Sesaat kemudian, aku sadar kesedihan ini tak akan membuahkan kebaikan apapun, hanya akan memperburuk suasana hati malam ini yang begitu menyeramkan. Tanpa pikir panjang ku akhiri kegiatan yang ku lakukan, ya kegiatan mendramatisir keadaan. Apa gunanya aku bersedih lebih baik aku segera bersiap berkelana di negeri mimpi. Lalu ku lepaskan high heel lalu short dress yang dengan indah membalut tubuh ku ganti dengan piyama tidurku. Tanpa mendapat aba-aba ku seret kaki menuju kamar mandi dan segera ku bersihkan semua benda kimia yang menempel di wajahku. Kemudian, bergegas menuju tempat tidur dan ku hempaskan tubuhku di tempat tidur seraya  membenamkan wajahku agar isak tangis tak pecah sejadi-jadinya. Namun akhirnya pecah sudah tangisku, dan pertahanan bendungan itu runtuh seketika. Aku pun terlelap tidur tanpa ku sadari.

***

            Cahaya mentari menerobos masuk melalui celah jendela kamarku. Ku peluk guling di sampingku lebih erat dan mencoba kembali ke alam mimpi. Namun usahaku tak berhasil. Usaha yang dilakukan mentari nampaknya jauh lebih keras dari yang aku lakukan. Ia ini seakan menuntutku beranjak dari tempat pembaringanku saat ini. Dan ku acungi jempol untuk mentari pagi ini. Aku bangkit dari tempat ternyaman di kamarku ini lalu berusaha menuju cermin dengan pikiran setengah sadar dan mata yang masih terkatup. Ku coba mengangkat kelopak mataku yang beratnya bertambah beribu kali lipat. Ku tatap lekat-lekat bayangan pada cermin datar di depanku. Sekadar ingin tahu seberapa buruk rupakah aku saat ini. Dan benar saja, mataku menjadi sipit sebagai efek samping tangisan ku semalam dan rambutku berhasil menyaingi rambut singa.

            Megetahui betapa buruknya penampilanku pagi ini tiba-tiba hasrat untuk memanjakan diri di hari Minggu menyelusup di hatiku. Rasanya ingin cepat-cepat menuju kamar mandi, menyegarkan badan ini dan segera melakukan ritualku di hari Minggu yaitu merawat diri. Tapi sepertinya aura ponsel lebih menggugah daripada aura kamar mandi. Tanpa pikir panjang, ku renggut ponsel di meja kecil tepat di samping tempat tidur. Dua puluh empat panggilan tak terjawab dan empat belas pesan masuk. Berharap nama Rio terpampang pada layar benda elektronik di tanganku. Ternyata harapanku hanya sekedar angan. “Kenapa malah teman Rio ? Kenapa Elang ? Kenapa bukan Rio ?” batinku. Aku tersentak membaca SMS Elang ‘Ca, angkat dong. Rio masuk rehabilitasi, dia tanyain kamu. Kamu dimana ? Buruan kesini’. Rio masuk rehabilitasi ? Apakah aku masih belum terbangun dari mimpiku ? Pertanyaan itu terus menyelimuti pikiranku. Namun lamunanku segera sirna setelah benda elektronik di tanganku berdering tanda panggilan masuk. ‘Elang’ nama itu terpampang jelas pada layar ponselku. Segera ku sentuh layar ponsel dan ku letakkan tepat di telinga, terdengar suara dari seberang sana. “Halo, iya aku kesana sekarang”. Aku segera bergegas berganti pakaian, tanpa membaca pesan masuk lainnya.  T-shirt, skiny jeans, flat shoes, sling bag dan rambut kucir kuda. Tak terlalu ku hiraukan penampilanku saat ini, wajah Rio terus membayangi pikiranku. Lalu ku bergegas menuju tempat rehabilitasi Rio.

            Ku telusuri tempat rehabilitasi Rio dengan langkah terburu-buru diiringi debar jantung yang berderu kencang. Tak lama, aku telah berada di depan ruang rehabilitasi Rio. Tanpa menunggu perintah serta pertimbangan langsung ku pegang knop pintu dan ku buka papan di depanku. Langsung ku peluk Rio yang sedang terbaring lemah kesakitan, tangisku pecah sejadi-jadinya. Rio mengigit bibir dan terkadang terdengar gemertak gigi, aku melihat ada rasa sakit teramat yang sedang ia tahan. Ku lepaskan pelukkanku dan mencoba berbicara setenang mungkin. “Rio, aku disini. Tahan ya,kamu pasti kuat”, ucapku dengan memegang tangannya serta diiringi derai air mata yang tak bisa ku sembunyikan. “Maaf aku nggak pernah kasih tahu kamu kalau aku ini pecandu”, ucap Rio masih menahan sakitnya. “Iya tak masalah, sekarang yang penting kamu harus bersih. Aku percaya kamu lebih kuat daripada rasa ketergantungan kamu sama obat-obat itu. Kamu harus bisa ngalahin rasa ketergantunganmu”. Tak lama petugas atau mungkin yang lebih tepatnya perawat datang menyuntikkan obat penenang yang aku yakini bukan sejenis narkoba. Tak berapa lama Rio mulai terlihat tenang, kemudian terlelap tidur. Mungkin ada sejenis obat tidur didalam suntikkan tadi, aku tak tahu pasti.

            Aku meninggalkan ruang rehabilitasi Rio sebentar untuk menghirup udara segar, menjernihkan pikiran dan menenangkan diri sekaligus membiarkan Rio beristirahat. Ternyata di luar Elang sedang duduk, sepertinya ada beban yang lumayan berat dalam pikirannya, tepat seperti yang aku rasakan saat ini. Ku putuskan untuk berbicara tentang Rio dengannya. “Mmm, Lang kamu disini ?” ucapku membuka percakapan diantara kami. “Eh Ca, iya nih. Ternyata kamu udah disini,” ucap Elang menyadari kehadiranku. Aku duduk di sampingnya, “Lang, aku nggak nyangka Rio pecandu,” ucapku dan langsung tertunduk. “Rio nggak pernah cerita ?” Gilang terheran-heran. “Nggak pernah,” ku tutupi wajahku dengan teapak tangan berusaha menutupi derai air mata yang kini mulai mengalir membentuk sungai kecil di pipiku. “Sabar ya, awalnya aku juga nggak percaya waktu dia cerita tentang ini. Tapi ya mau gimana lagi, pergaulannya waktu kelas 1 SMA yang bikin dia terjerumus nyampe kayak gini. Rio juga bilang dia nyesel sama perbuatannya dulu. Tapi itu kan masa lalu kelamnya, nggak mungkin bisa dirubah. Kita cuma bisa bantu dia supaya dia bisa bersih, Dan orang yang aku yakin bisa jadi penyemangat Rio ya cuma kamu.” ucap Elang panjang lebar. “Iya Lang, kamu bener. Seharusnya aku nggak cengeng kayak gini, gimana aku bisa jadi penyemanagat dia kalau aku sendiri rapuh,” ucapku seraya menghapus air mata. “Nah, gitu dong. Itu baru namanya Caca pacarnya Rio, kamu harus terus semangatin Rio ya,” ucapnya sambil menepuk bahuku. “Pasti Lang, tanpa kamu suruh pun akan aku lakuin. Yaudah kalu gitu aku ke ruang rehabilitasi Rio duluan ya,” ucapku seraya beranjak dari tempat dudukku. “Iya, nanti aku nyusul,” ucapnya disertai seulas senyum di bibirnya.

***

            Tak terasa sang surya telah berganti rembulan. Pertanda aku harus segera pulang, jika tak ingin membuat orang tuaku khawatir.

***
            
            Esoknya, aku mendapat SMS dari papanya Rio, bahwa aku dilarang menemui Rio lagi. Dan setelah Rio keluar dari tempat rehabilitasi.Ia akan pindah ke luar kota. Sakit rasanya tapi bagaimana pun juga mungkin memang itulah keputusan yang terbaik untuk Rio dan masa depannya.

            Empat bulan telah berlalu, dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah kejadian itu. Dan setelah kejadian itu aku menjadi sosok yang mengagumi semburat jingga sore hari. Karena aku seakan melihat sosok dirinya dalam semburat jingga sore hari, warnanya menenangkan hati seperti dirimu yang selalu dapat menenangkan hati ini. Dan satu hal yang baru aku sadari bahwa semburat jingga sore hari selalu indah tetapi keindahannya tak pernah menyilaukan mata. Dan hingga detik ini ku masih setia menunggumu di ujung senja, meski aku tahu mungkin api cinta kita tinggal abu tetapi aku percaya waktu akan mengantarmu kembali padaku. Dan hingga detik ini namamu selalu menghiasi dalam setiap doaku, hanya satu doaku untukmu semoga di udara mimpimu tak meruap menjadi abu hanya karena dahulu dirimu seorang pecandu.

***

            Tiga tahun berlalu, namun tak pernah ku dapati kabar dari Rio. Penantian panjangku bersama sang senja ini terus berlanjut. Hingga akhirnya penantian ini tak berujung sia-sia. Senja ini masih seperti senja-senja sebelumnya, aku asyik meresapi keindahan semburat jingga di ujung kota kecil ini. Tanpa ku sadari sosok pria yang selama ini ku tunggu kehadirannya kembali dalam kehidupanku duduk tepat di sampingku. "Indah ya tapi aku minta maaf kejadian 3 tahun lalu merusak indahnya kisah kita" ucapnya yang sontak membuatku kaget, tersadar dari lamunanku. Aku sangat mengenal suara itu, ku putar pandangan membentuk sudut siku-siku agar mengetahui pemilik suara yang ku rindukan itu. Dan benar saja, sosok itu kembali hadir. "Rio ? Kamu ?" tanyaku bingung. "Maafkan semua prilaku orang tuaku terutama perbuatan bodohku itu" ucapnya tanpa menoleh ke arahku. "Aku bahkan tidak sedikit pun menyimpan amarah, aku hanya menyimpan rindu yang teramat pada sosok yang selalu ku tunggu dalam penantian panjang bersama semburat jingga setiap kali senja menyapa" ucapku apa adanya. "Kenapa harus semburat jingga ? Kenapa hanya saat senja ? Aku tak paham. Kamu memang tetap seperti dulu, Caca itu aneh" goda Rio. "Tapi bikin kangen kan ?" candaku. "Percaya diri banget sih kamu, ada sosok lain yang selalu aku rindukan. Bukan Caca" ucapnya datar. "Maaf, aku cuma bercanda. Ternyata penantian panjang ini benar-benar sia-sia" ucapku diselimuti kekecewaan. "Jangan cemberut gitu, makin jelek tuh. Denger dulu nyampe selesai, jangan kamu potong gitu aja. Ada sosok lain yang aku selalu rindukan, bukan Caca. Tapi dia itu" ucap Rio menatap lekat wajahku. "Stop ! Aku nggak mau denger" potongku seraya menutup telinga. "Tapi dia, Ica Salsabila Ayunita. Dia kamu Caca aneh" ucap Rio terikuti tawa yang renyah. "Kamu, nggak berubah ya jail terus" ucapku seraya melukis senyum. "Dan pemilik hati ini nggak akan berubah juga kok" ucapnya seraya mencolek daguku. "Kamu gombal" ucapku menahan rasa bahagia yang kian menjadi-jadi.

         Alasanku mengagumi semburat jingga kala senja karena aku seakan melihat sosok dirinya dalam semburat jingga sore hari, warnanya menenangkan hati seperti dirimu yang selalu dapat menenangkan hati ini. Dan satu hal yang baru aku sadari bahwa semburat jingga sore hari selalu indah tetapi keindahannya tak pernah menyilaukan mata. Dan hingga tiga tahum aku setia menunggumu di ujung senja, meski aku pernah berpikir mungkin api cinta kita tinggal abu tetapi aku percaya waktu akan mengantarmu kembali padaku. Dan namamu selaludengan indah menghiasi dalam setiap doaku, hanya satu doaku untukmu semoga di udara mimpimu tak meruap menjadi abu hanya karena dahulu dirimu seorang pencandu. Dan akhirnya penantian panjangku bersama sang senja terjawab, semua tak menjadi sia-sia. Berawal dari pertemuan kembali itu menjadikan kita sebagai pengagum semburat jingga kala senja. Pengagum semburat jingga yang menenangkan dan tak banyak tingkah. Semburat jingga yang mempersatukan kita kembali kala senja. 

***
           


Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen 'Penantian di Ujung Senja' ini. Jangan lupa tinggalkan saran dan kritik ya.

Komentar